Share :

Apresiasi Peran Para ADB, Dirjen Dukcapil Sebut ADB Ibarat Obat Nyamuk

2019-08-08 03:10:37

Jakarta - Intelektualitas Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Dukcapil Kemendagri), Prof. Zudan Arif Fakrulloh, memang jempolan. Untuk kesekian kalinya, ia membuat analogi-analogi menarik tentang pekerjaannya, maupun jajarannya.

Kali ini, para Administrator Data Base (ADB) yang kebagian jatah. Dengan lugasnya, Zudan menyebut ADB bagai obat nyamuk yang membuat tenang para orang tua kala menidurkan anaknya di rumah.

“ADB itu seperti obat nyamuk. Obat nyamuk itu membuat tenang orang tua saat menidurkan anaknya di rumah. (Maksud saya) Jadi, temen-temen itu buat tenang Pak Kadis (Kepala Dinas Dukcapil) dan Bu Kadis,” ujarnya kala memberikan arahan di acara Penutupan Bimbingan Teknis Kapasitas Pengelola SIAK Bagi ADB Kabupaten/Kota Angkatan V Tahun 2019, Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (6/8/2019).

Apa yang disampaikan Zudan sebetulnya, tentu merupakan ungkapan terimakasih sekaligus apresiasi atas kinerja para ADB yang selalu siap sedia di garda terdepan pelayanan administrasi kependudukan (adminduk).

Bagaimana tidak, ADB beserta Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) adalah backbone dari penyelenggaraan Adminduk tersebut. Apalagi, saat ini Dukcapil terus memacu diri dalam revolusi pelayanan yang menjadi serba digital dan online.

“Yang bisa buka password siapa? Pertama, pintu masuknya ADB. Yang create NIK (Nomor Induk Kependudukan) siapa? Operator. Ada passwordnya? Ada. Layanan Dukcapil, backbonenya ada di Kabid (Kepala Bidang) PIAK. Kemudian membawahi Kasi (Kepala Seksi) PIAK sampai ADB. Inilah tulang punggung kita,” jelasnya.

Oleh karena itu, Zudan berpesan agar setiap ADB dapat selalu meluangkan waktu untuk berkoordinasi dengan Kepala Dinas Dukcapilnya masing-masing. Hal ini dilakukan guna menjalankan disiplin kerja kolaboratif yang mengalir bagai darah di tubuh organisasi Dukcapil.

“Apa yang kita lakukan sesungguhnya adalah kerja kolaboratif. Kerja bersama. Kita tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaan sendirian. Dirjen (Zudan sendiri) itu bukan siapa-siapa kalo dari Kabupaten/Kota tidak menjadi kaki yang kokoh atau punggung yang kuat,” tuturnya.

“Kerja kita kolaboratif. Di dalam tim, sakitnya saudara adalah sakitnya tim. Hebatnya saudara, hebatnya tim. Kita hebat karena semuanya hebat,” tutupnya. Dukcapil***